STRATEGI PEMBELAJARAN
STRATEGI PEMBELAJARAN
A. Pengertian Strategi Pembelajaran
Secara umum strategi adalah usaha untuk memperoleh
kesuksesan dan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan
strategi dapat diartikan a plan, method, or series of activities
designed to achieve a particular educational goal (J.R. David, 1976).[2] Dengan demikian, strategi
pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian
kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Atau dengan
kata lain strategi pembelajaran adalah rencana tindakan (rangkaian kegiatan)
termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan
dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini
adalah tujuan pembelajaran.
Stategi pembelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan
oleh seorang guru dalam proses pembelajaran. Paling tidak ada 4 jenis strategi
dasar yang berkaitan dengan pembelajaran, yakni: (a) menetapkan spesifikasi dan
kualifikasi perubahan perilaku pebelajar, (b) menentukan pilihan
berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar, (c) memilih
prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar, dan (d) norma dan kreteria
keberhasilan belajar mengajar.[3]
B. Jenis-jenis Stategi Pembelajaran
Metode merupakan cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar yang
telah disusun tercapai secara optimal. Ini berarti, metode digunakan untuk
merealisasikan strategi yang telah ditetapakan, karena suatu strategi
pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan melalui penggunaan metode
pembelajaran.[4]
Berikut ini disajikan beberapa metode pembalajaran yang bisa
digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran:
a. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah teknik penyampaian pesan pengajaran
yang sudah lazim dipakai oleh para guru di sekolah. Ceramah diartikan sebagai
suatu cara penyampaian bahan secara lisan oleh guru di muka kelas. Peran murid
di sini sebagai penerima pesan, mendengarkan, memperhatikan, dan mencatat
keterangan-keterangan guru bilamana diperlukan.[5]
b. Metode
Demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan penyajian pelajaran dengan
mempergakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau
benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan.[6] Misalnya demonstrasi tentang cara
memandikan mayat orang muslim/muslimah dengan menggunakan model atau boneka,
demonstrasi tentanf cara-cara tawaf pada saat menunaikan ibadah haji, dan
sebagainya.
c. Metode
Diskusi
Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan
siswa pada suatu permasalahan. Tujuan metode ini adalah memecahkan suatau
permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa,
serta untuk membuat keputusan. Karena itu, diskusi bukanlah debat yang bersifat
mengadu argumentasi. Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman dan untuk
menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama.[7]
d. Metode
Simulasi
Simulasi berasal dari kata simulate yang
artinya pura-pura atau berbuat seolah-olah. Dengan demikian simulasi dalam
metode pembelajaran sebagai cara untuk menjelaskan bahan pelajaran melalui
perbuatan pura-pura atau melalui proses tingkah laku imitasi, atau bermain
peranan mengenai suatu tingkah laku yang dilakukan seolah-olah dalam keadaan
yang sebenarnya.[8]
e. Metode
Tugas dan Resitasi
Metode tugas dan resitasi biasanya digunakan dengan tujuan
agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melakukan
latihan-latihan selama melakukan tugas. Dengan kegiatan melaksanakan siswa
aktif belajar, dan terasa terangsang untuk meningkatkan belajar yang
lebih baik, memupuk inisiatif dan berani bertanggungjawab.[9] Jenis-jenis tugas sangat banyak
tergantung pada tujuan yang akan dicapai, seperti tugas meneliti, menyusun
laporan, dan tugas di laboratorium.[10]
f. Metode
Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan
terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic sebab
pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa. Guru bertanya
siswa menjawab, atau siswa bertanya guru menjawab. Dalam komunikasi ini
terlihat adanya hubungan timbal balik secara langsung antara guru dengan siswa.[11]
g. Metode Kerja
Kelompok
Metode kerja kelompok dilakukan atas dasar pandangan bahwa
anak didik merupakan suatu kesatuan yang dapat dikelompokkan dengan kemampuan
dan minatnya untuk untuk mencapai suatu tujuan pengajaran tertentu dengan sitem
gotong royong.[12]
h. Metode Problem
Solving
Metode problem solving (metode pemecahan
masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode
berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan
metode-metode lainnya di mulai dengan mencari data sampai kepada menarik
kesimpulan.[13]
i. Metode
Sistem Beregu (Team Teaching)
Team teaching pada dasarnya ialah metode
mengajar, dua orang guru atau lebih bekerja sama mengajar sebuah kelompok
siswa. Jadi kelas dihadapi beberapa guru. Sistem regu banyak macamnya, sebab
untuk satu regu tidak senantiasa guru secara formal saja, tetapi dapat
melibatkan orang-orang luar yang dianggap perlu sesuai dengan keahlian yang
kita butuhkan.[14]
j. Metode
Latihan (Drill)
Metode latihan atau drill merupakan suatu
teknik yang dapat diartikan sebagai suatu cara mengajar di mana siswa
melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, agar siswa memiliki ketangkasan atau
keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari.[15]
k. Metode
Karyawisata (Field-Trip)
Metode karya wisata adalah metode pengajaran yang dilakukan
dengan mengajak para siswa ke luar kelas untuk mengunjungi suatu peristiwa atau
tempat yang ada kaitannya dengan pokok bahasan. Sebelum keluar kelas guru
terlebih dahulu membicarakan dengan anak-anak tentang hal-hal yang akan
diselidiki, dan aspek-aspek apa saja yang harus diperhatikan.[16]
l. Metode
Pembelajaran Ekspositori
Metode pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran
yang menekankan pada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru
kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi
pelajaran secara optimal. Dalam strategi ini materi pelajaran disampaikan
langsung oleh guru. Siswa tidak dituntut untuk menemukan materi itu. Materi
pelajaran sudah jadi. Karena strategi ekspositori menekankan kepada proses
bertutur, maka sering juga dinamakan strategi “chalk and talk”.[17]
m. Metode Pembelajaran
Inkuiri
Strategi pembelajaran inkuiri menekankan pada proses mencari
dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung. Peran siswa
dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran,
sedangkan guru berperan sebgai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar.
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang
menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis dalam mencari dan menemukan
sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu
sendiri biasanya dilakukam melalui Tanya jawab antara guru dan siswa.[18]
n. Metode
Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
Strategi pembelajaran kontekstual adalah suatu proses
pendidikan yang bertujuan memotivasi siswa untuk memehami makna materi
pelajarinya dengan mangkaitkan materi tersebut dengan konteks sehari-hari,
sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secra fleksibel dapat
diterapkan (ditransfer) dari suatu permasalahan/konteks ke permasalahan/konteks
lainnya.[19]
3. Dasar Pemilihan Strategi Pembelajaran
Beberapa prinsip-prinsip yang mesti dilakukan oleh pengajar
dalam memilih strategi pembelajaran secara tepat dan akurat, pertimbangan
tersebut mesti berdasarkan pada penetapan:[20]
a. Tujuan
Pembelajaran
Penetapan tujuan pembelajaran merupakan syarat mutlak bagi
guru dalam memilih metode yang akan digunakan di dalam menyajikan materi
pengajaran. Tujuan pembelajaran merupakan kemampuan (kompetensi) atau
keterampilan yang diharapkan dimiliki oleh siswa setelah melakukan proses
pembelajaran tertentu. Tujuan pembelajaran dapat menentukan suatu strategi yang
harus digunakan guru. Misalnya, seorang guru Olahraga dan Kesehatan menetapkan
tujuan pembelajaran agar siswa dapat mendemonstrasikan cara menendang bola dengan
baik dan benar. Dalam hal ini metode yang dapat membantu siswa mencapai tujuan
adalah metode ceramah, guru memberi instruksi, petunjuk, aba-aba dan
dilaksanakan di lapangan, kemudian siswa mendemontrasikan cara menendang bola
dengan baik dan benar, selanjutnya dapat digunakan metode pembagian tugas.
Siswa ditugasi bagaimana menjadi keeper, kapten, gelandang, dan apa tugas
mereka, dan bagaimana mereka dapat bekerja sama dan menendang bola.
Dalam contoh ini, terdapat kemampuan siswa pada tingkat
kognitif dan psikomotorik. Demikian juga diaplikasikan kemampuan afektif,
tentang bagaimana kemepuan mereka dalam bekerja sama dalam bermain bola dari
metode pemberian tugas yang diberikan guru kepada setiap individu.
b. Aktivitas
dan Pengetahuan Awal Siswa
Belajar merupakan berbuat memperoleh pengalaman tertentu
sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu strategi pembelajaran harus
dapat mendorong aktivitas siswa. Pada awal atau sebelum guru masuk ke kelas
memberi materi pengajaran kepada siswa, ada tugas guru yang tidak boleh
dilupakan adalah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa. Sewaktu memberi
materi pengajaran kelak guru tidak kecewa dengan hasil yang dicapai siswa.
Untuk mendapatkan pengetahuan awal siswa guru dapat melakukan pretes tertulis atau
tanya jawab di awal pelajaran. Dengan mengetahui penegtahuan awal siswa, guru
dapat menyususn strategi memeilih metode yang tepat bagi siswa.
c. Integritas
Bidang Studi/Pokok Bahasan
Mengajar merupakan usaha mengembangkan seluruh pribadi
siswa. Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, tetapi juga
meliputi pengembangan aspek afektif dan aspek psikomotor. Karena itu strategi
pembelajaran harus dapat mengembangkan seluruh aspek kepribadian secara
terintegritas.
d. Alokasi
Waktu dan Sarana Penunjang
Waktu yang tersedia dalam pemberian materi pelajaran satu
jam pelajaran 45 menit, maka metode yang dipergunakan telah dirancang
sebelumnya, termasuk di dalamnya penggunaan penunjang pembelajaran. Misalnya
pada bidang studi biologi, metode yang diterapkan adalah metode praktikum,
berarti metode lain tidak kita pergunakan, metode ceramah sangat perlu yang
waktunya dialokasikan sekian menit untuk memberi petunjuk, aba-aba, dan arahan.
Kemudian memungkinkan mempergunakan metode diskusi, karena dari hasil praktikum
siswa memerlukan diskusi kelompok untuk memecah masalah/problem yang mereka
hadapi.
e. Jumlah
Siswa
Idealnya metode yang kita terapkan di dalam kelas perlu
mempertimbangkan jumlah siswa yang hadir, agar proses belajar mengajar efektif.
Pada sekolah dasar umunya mereka menerima siswa maksimal 40 orang, dan sekolah
lanjutan maksimal 30 orang. Kebanyakan ahli berpendapat bahwa idealnya satu
pada sekolah dasar dan sekolah lanjutan adalah 24 orang.
f. Pengalaman
dan Kewibawaan Pengajar.
Guru yang baik adalah yang berpengalaman, hal ini diakui di
lembaga pendidikan, kriteria guru berpengalaman adalah dia telah mengajar
selama lebih kurang 10 tahun. Dengan demikian strata pendidikan bukan menjadi
jaminan utama dalam keberhasilan belajar, akan tetapi pengalaman yang
menentukan, umpanya guru peka terhadap masalah, memecahkan masalah, memilih
metode, mendapat umpan balik dalam proses belajar mengajar, dan sebagainya.
Di samping berpengalaman guru harus berwibawa. Kewibawaan
merupakan syarat mutlak yang bersifat abstrak bagi guru, karena guru harus
berhadapan dan mengelola siswa yang berbeda latar belakang akademik dan sosial,
guru merupakan sosok tokoh yang disegani dan ditakuti anak-anak didiknya.
Komentar
Posting Komentar